News
Jakarta Ideal untuk Membangun Pusat Data
Terus berkembangnya industri digital di Indonesia membuat negara ini membutuhkan data center (pusat data) yang memadai dalam jumlah yang tidak sedikit. Hingga akhir 2024, Telkom Group memiliki 35 pusat data termasuk di Singapura, Hongkong dan Timor Leste. Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital menyebutkan di Indonesia terdapat 185 data center dengan kapasitas 274 MW pada Agustus 2025.
Indonesia menjadi pasar strategis bagi industri data centre di kawasan Asia-Pasifik, didorong oleh peningkatan permintaan akan fasilitas yang siap untuk teknologi kecerdasan buatan (AI). Namun, permintaan ini juga menimbulkan tantangan yang signifikan, terutama kenaikan biaya operasional akibat pergeseran sektor menuju sistem berdensitas tinggi, liquid cooling, dan sistem tenaga listrik bertegangan tinggi.
Menurut Laporan Data centre construction cost index 2025 dari perusahaan jasa profesional global Turner & Townsend, Indonesia menempati peringkat ke-20 dalam biaya konstruksi data centre, turun enam peringkat dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan biaya konstruksi sebesar Rp187.207 per watt, Jakarta tetap menjadi target pasar yang menarik dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura (Rp257.681) dan Tokyo (Rp253.005).
Meski memiliki biaya konstruksi yang kompetitif, Indonesia juga menghadapi berbagai tantangan, seperti kenaikan biaya operasional dan keterbatasan infrastruktur. Data centre construction cost index 2025 juga menyebutkan bahwa hampir 48% responden global menyatakan bahwa ketersediaan daya merupakan hambatan utama dalam memenuhi tenggat waktu proyek konstruksi data centre.
Linknet Bangun Data Center Baru di Surabaya
Di Indonesia, meskipun pasokan listrik memadai, keterbatasan infrastruktur terutama dalam transmisi tegangan tinggi tetap menjadi tantangan yang signifikan. Namun, pemerintah terus mendukung inisiatif yang bertujuan untuk memperluas infrastruktur guna memenuhi permintaan yang terus meningkat akan data centre berbasis AI. Rantai pasok juga menjadi masalah tersendiri yang harus diselesaikan agar pembangunan pusat data di Indonesia dapat berkembang.
Sebanyak 83% ahli industri data centre meyakini bahwa rantai pasok lokal belum siap untuk mendukung teknologi pendinginan canggih yang dibutuhkan oleh data centre AI dengan densitas tinggi. Seiring dengan pertumbuhan pasar Indonesia yang semakin masif, developer lokal dan regional mulai mengambil peran untuk memenuhi permintaan.
Peningkatan permintaan terhadap pusat data berbasis AI diperkirakan akan menyebabkan peningkatan penggunaan daya sebesar 165% di kawasan Asia-Pasifik hingga tahun 2030, yang akan menambah beban pada infrastruktur. Di Indonesia, kombinasi antara beban kerja AI dan tantangan infrastruktur, serta kebutuhan energi dan pendinginan yang lebih tinggi, mendorong biaya operasional dan desain menjadi 2-3 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan data centre tradisional.

Hyperscale Data Center Telkom di Cikarang