Coffee Break
Epson Berusaha Kuasai Pasar Anak Muda
Pangsa pasar printer di Indonesia hingga kini cukup ramai dengan permintaan yang tinggi di semua segmen seperti perorangan ataupun untuk sektor bisnis. Pengguna printer di Indonesia didominasi oleh sektor Usaha Kecil Menengah (UMKM), perkantoran dan juga institusi pendidikan yang membutuhkan volume cetak tinggi. Meski demikian penggunaan rumahan tetap ada, pergeseran tren menunjukkan permintaan tertinggi berasal dari kebutuhan bisnis untuk mencetak dokumen fisik dengan biaya hemat dan daya tahan tinggi, terutama menggunakan teknologi ink tank (tangki tinta).
Menurut data IDC Indonesia terdapat tiga merek printer yang menguasai sebagian besar pasar printer di Indonesia yaitu Epson, Canon dan juga HP. Epson memiliki pangsa pasar tertinggi untuk printer di Indonesia, yaitu sebesar 59,8%. Merek Canon menempati posisi kedua dengan pangsa pasar 20,8%, diikuti oleh HP di posisi ketiga dengan 13,7%.
Mengutip firma analisis data pasar IDC, Epson menguasai hampir disemua segmen printer. Pangsa pasar (market share) printer Epson di Indonesia kini berada di angka 71 persen untuk segmen inkjet. Sementara untuk segmen ink tank, market share Epson di Indonesia berkisar di angka 75 persen kuartal III-2025. Tingginya Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) menjadi senjata utaa Epson dalam mengusai pasar, karena TKDN yang tinggi membuatnya menjadi pilihan bagi lembaga negera atau pemerintahan.
Meski demikian Epson tak bisa terus berharap pada segmen ini, terlebih dengan diterapkannya efisiensi oleh pemerintah yang berimbas pada menurunnya pesanan. Untuk itu Epson mencoba untuk kembali mencoba bermain di segmen personal atau rumahan. Segmen ini banyak dihuni oleh para pelajar yang kini banyak mendapat tugas dari sekolah yang mengharuskan pelajar untuk mencetak tugas yang dibuatnya. Hal ini juga berlaku bagi mahasiswa yang juga dibebani banyak tugas hingga skripsi.
Epson Hadirkan Printer Berbiaya Rendah
Namun banyaknya printshop skala kecil maupun besar membuat pelajar enggan untuk mencetak sendiri di rumah karena dianggap lebih murah dan praktis. Meski anggapan ini salah karena mencetak dengan printer sendiri jauh lebih murah harga perlembarnya dibanding mencetak di printshop. Inilah yang menjadi keresahan Epson Indonesia yang ingin merangkul pelajar sebagai penggunanya. Epson pun melakukan berbagai hal seperti edukasi ke sekolah-sekolah.
Dalam sebuah diskusi dengan media dalam Media Gathering Epson Indonesia di Bangkok, Thailand minggu lalu terungkap bahwa Epson sudah melakukan promo maupun edukasi kepada pelajar namun hal ini masih belum cukup. Melakukan edukasi kepada pelajar tentang penggunaan printer memang perlu namun mereka bukan pemegang anggaran dalam rumah tangga sehingga perlu juga mengedukasi orang tua sebagai pemegang anggaran untuk menyediakan printer di rumah.
Namun pembelian pertama printer yang cukup mahal memang menjadi kendala meskipun jika dilihat jangka panjang jauh lebih hemat. Pihak Epson Indonesia mengungkapkan bahwa harga cetak perlembar menggunakan printer Epson sangat murah bahkan tak sampai Rp100, jauh lebih mahal dibanding jika mencetak di printshop yang Rp1.000 hingga Rp3.000 per lembarnya. Mencoba menguasai pasar printer anak muda sambil terus menguatkan segmen bisnis menjadi target utama Epson Indonesia di 2026.
Para petinggi Epson Indonesia saat memaparkan kilas bisnis Epson selama 2025.