Penyejuk udara atau air conditioner (AC) kini sudah banyak digunakan dan bukan lagi menjadi barang mewah karena harganya yang semakin terjangkau. Selain itu konsumsi daya yang semakin ringan membuat rumah dengan daya 1300 watt bahkan hanya 900 watt sudah bisa menggunakan AC. Dibalik semakin banyaknya pengguna AC ada beberapa hal yang dipercaya ada pengaruh buruk dari penggunaan AC.
Berbagai mitos mengenai penggunaan AC dan dampaknya terhadap kesehatan masih kerap beredar di masyarakat. Mulai dari anggapan bahwa AC dapat memicu penyakit, memperburuk kondisi jantung, hingga menyebabkan tubuh menjadi lebih rentan sakit. Padahal, risiko kesehatan umumnya muncul dari cara dan durasi penggunaannya yang kurang tepat. Selama penggunaan AC dikelola sesuai dengan ketentuan yang aman, mulai dari pengaturan suhu, durasi pemakaian, hingga kebersihan udara, penggunaan AC dapat mendukung kenyamanan dan kesehatan.
Pada acara NEXTHOME by MODENA yang digelar di Senayan City pekan lalu, dr. Bobby Arfhan Anwar, Sp.JP(K), FIHA, Dokter Spesialis Jantung Intervensi, turut mengungkap sejumlah mitos sekaligus berbagi tips agar penggunaan AC di rumah tetap berada dalam kondisi yang aman bagi kesehatan. Berikut beberapa di antaranya.
Menurut dr. Bobby, penggunaan AC sejatinya tidak berpotensi menimbulkan penyakit selama suhu ruangan diatur sesuai dengan kondisi fisiologis tubuh. AC justru dapat membantu meregulasi suhu tubuh agar tetap optimal, terutama saat aktivitas harian dilakukan di dalam ruangan. “Termasuk saat olahraga berat, sebaiknya kita menggunakan AC agar bisa mengatur suhu yang sejuk untuk tubuh. Ketika kita sedang olahraga dan suhu ruangan panas, jantung kita bekerja lebih keras. Karena itu kita sering merasa pusing atau pandangan terasa gelap saat berolahraga di kondisi ruangan yang panas,” tutur dr. Bobby.
Penggunaan AC dalam durasi yang terlalu lama, terutama di ruangan tertutup, dapat menyebabkan udara menjadi terlalu kering dan suhu terlalu dingin yang berisiko memicu kulit kering hingga reaksi alergi. Karena itu, dr. Bobby menyarankan agar AC tidak digunakan seharian penuh tanpa jeda serta pentingnya mencukupi asupan cairan untuk menjaga kelembapan kulit dan tubuh. Selain itu, sirkulasi udara alami tetap perlu dimaksimalkan dengan membuka jendela atau ventilasi ketika AC dimatikan, agar kualitas udara di dalam ruangan tetap terjaga.
Di sisi lain, AC justru dapat dimanfaatkan untuk membantu mengontrol kelembapan udara saat kondisi ruangan terlalu lembap, misalnya saat musim hujan. Menjaga kebersihan udara menjadi faktor penting dalam penggunaan AC yang sehat. dr. Bobby menekankan pentingnya membersihkan filter AC secara berkala untuk memastikan udara di dalam ruangan tetap bersih dari debu dan jamur yang kerap memicu alergi. Ia juga mengingatkan bahaya merokok di dalam ruangan, terlebih di ruangan dengan AC.
“Jangan merokok di dalam ruangan, apalagi ruangan ber-AC. Walaupun ruangan sudah tidak bau asap, partikel asap rokok bisa menempel di AC dan furnitur selama tiga minggu. Ini bisa berdampak pada perokok tangan ketiga, seperti anak-anak kita. Ini yang bisa menyebabkan pneumonia pada balita,” tambah dr. Bobby.
dr. Bobby Arfhan Anwar, Sp.JP(K), FIHA, Dokter Spesialis Jantung Intervensi saat memberikan tips pada acara NEXTHOME by MODENA