Connect with us

Coffee Break

Mengenang 2025 dan Melihat Teknologi 2026

Published

on

Tak terasa 2025 sudah berlalu.  Tahun yang begitu ramai terutama di industri gadget dan telekomunikasi seluler baik di Indonesia maupun dunia.  Sepanjang 2025 banyak hal menarik yang terjadi terutama di Indonesia seperti tercapainya cita-cita hanya ada tiga operator seluler di Indonesia setelah bersatunya XL Axiata dengan Smartfren.  Merger super mahal ini karena melibatkan dana rattan triliun dan menjadi perhatian para pemerhati dunia telko tanah air.  Pasalnya dana sebesar itu rela digelontorkan namun kapan akan baik modalnya.

Meski industry telekomunikasi seluler di Indonesia kini terus berkembang namun sudah hampir mencapai titik jenuh terutama dalam hal jumlah pelanggan.  Hal ini diperparah dengan kewajiban operator yang melakukan merger untuk mengembalikan frekuensi kepada negara yang selama ini dimilikinya.  Sehingga merger hanya akan menyatukan kekayaan keduanya dan pelanggannya, sedangkan frekuensi yang merupakan modal dasar bagi penyelenggaran telekomunikasi harus diperjuangkan lagi melalui lelang.

Selama 2025 pasar gadget terutama smartphone dunia masih belum memiliki terobosan baru, para produsen smartphone sepanjang 2025 masih memanjakan konsumennya dengan kamera dan baterai yang besar.  Hal ini karena kamera masih menjadi perhatian utama pengguna smartphone di seluruh dunia karena fitur ini yang paling banyak digunakan.  Itulah mengapa smartphone baru masih mengandalkan kamera sebagai jualan utamanya.  Bahkan OPPO dan vivo sama-sama menghadirkan smartphone flagship baru dengan kamera tele.

Adopsi AI Meluas Melampaui Sektor IT

Sementara itu tren penggunaan baterai hingga 7000 mAh pada smartphone juga terjadi pada 2025 ini.  Seperti sebuah orkestra, hampir semua smartphone yang nadir di 2025 berentak menghadirkan smartphone dengan baterai 7000 mAh tak terkecuali smartphone entry level.  Realme terang-terangan menghadirkan C85 dengan kapasitas baterai 7000 mAh di akhir tahun untuk membidik pangsa pasar pekerja lapangan seperti driver ojek online maupun para pedagang kaki lima.  Berbeda dengan Motorola yang membidik para pemain gim online untuk menggunakan smartphonenya yang menggunakan baterai 7000 mAh.

Selain smartphone, handheld gaming juga menunjukkan geliatnya di Indonesia dengan hadirnya produk baru dari ASUS dan juga Lenovo.  Sama seperti smartphone, handheld gaming juga membidik pasar yang lebih ke bawah dengan menghadirkan produk dengan harga yang lebih terjangkau.  Meski tak seramai smartphone dan juga laptop, namun pasar handheld gaming perlahan akan merest hati pengguna gadget di Indonesia.  Belum lagi vivo dan juga Samsung yang memperkenalkan produk VR terbaru yang juga bakal segera masuk ke Indonesia.

Meskipun tak semasiv perangkat komputasi dan telekomunikasi, teknologi AI juga masuk ke home appliance termasuk proyektor.  Perangkat ini sedikit demi sedikit sudah dibekali dengan teknologi AI untuk memberikan kenyamanan pada pengguna proyektor terutama yang sudah terkoneksi dengan internet.  Hal ini karena sudah banyak masyarakat yang mulai beralih dari TV ke proyektor untuk kebutuhan hone entertainment terutama karena alasan praktis.

Bagaimana dengan 2026?  AI nampaknya akan menjadi teknologi utama yang akan hadir di semua perangkat lebih masiv dan lebih canggih.  Bermain dengan spesifikasi teknis kini tak lagi menjadi hal yang utama, namun adopsi AI menjadi lebih menarik karena bersentuhan langsung dengan gaya hidup dan kebutuhan konsumen.  Maka 2026 akan menjadi tahun adopsi AI di dunia bahkan juga di Indonesia.

Peristiwa besar yang di dunia telekomunikasi pada 2025 adalah merger yang dilakukan oleh XL Axiata Tbk dengan Smart Telecom Tbk dengan nilai yang fantastis.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *