News
Cisco: Lebih dari 50% Serangan Siber di Indonesia Memanfaatkan Teknologi AI
Organisasi yang lamban merespons manusia akan kesulitan mengendalikan agen otonom yang bergerak dalam hitungan detik. Riset Cisco menunjukkan, pertahanan terbaik bukan hanya satu keunggulan, melainkan kombinasi cakupan luas, kecepatan respons, dan kerja tim yang solid tanpa hambatan operasional. Relentless Defense Report menilai adaptasi praktisi keamanan terhadap ancaman berbasis AI. Organisasi diuji dari cakupan perlindungan, kecepatan respons, dan hambatan operasional. Rata-rata skor Indonesia mencapai 72/100, dengan 29% organisasi masuk kategori Relentless Defenders—jauh di atas rata-rata global yang hanya 8%.
“AI secara fundamental telah meningkatkan eskalasi risiko dalam pertahanan siber. Di era pasca-Mythos, kecepatan pertahanan didorong oleh kelincahan operasional, bukan hanya teknologi. Organisasi yang mampu tetap unggul adalah mereka yang mengintegrasikan keamanan ke dalam operasional mereka, memperlakukannya lebih dari sekadar formalitas compliance, serta meruntuhkan silo-silo operasional sehingga orang yang tepat dapat mengambil keputusan yang tepat di waktu yang tepat,” kata Cin Cin Go, Managing Director, Cisco Indonesia.
Laporan ini menyoroti gesekan operasional sebagai penghambat utama pertahanan siber. Masalah tersebut tidak bisa ditangani tim keamanan saja karena kepemilikan, persetujuan, dan silos tersebar di IT, pengadaan, serta eksekutif. Akibatnya, keputusan tidak jelas, data terfragmentasi, dan penerapan AI menjadi semakin kompleks. Hanya 63% organisasi di Indonesia menyebutkan bahwa tim keamanan, networking dan IT bertindak sebagai satu tim dengan visibility dan tooling yang sama.
Dalam hal Pengaruh jajaran eksekutif sebanyak 43% mengatakan bahwa apa yang mereka ukur/nilai terlalu teknis untuk meyakinkan jajaran eksekutif, 29% mengalami kesulitan untuk menerjemahkan metrik bisnis menjadi informasi yang dapat memengaruhi pengambilan keputusan dan 26% sama sekali tidak memiliki cara yang konsisten untuk mengukur kinerja keamanan. Sedangkan dalam hal akses data, 38% di Indonesia juga menghabiskan waktu lebih lama untuk mengumpulkan dan menghubungkan data di seluruh sistem, alih-alih mengatasi ancaman yang sebenarnya, dan 46% mengatakan bahwa mereka melewatkan insight yang penting karena data berada di luar jangkauan mereka.
Hampir semua praktisi keamanan di Indonesia melaporkan adanya peningkatan kemampuan deteksi dan respons ancaman sebesar setidaknya 25%. Lebih dari sepertiga di antaranya menegaskan bahwa peningkatan ini tidak hanya memperkuat kesiapan menghadapi serangan, tetapi juga secara nyata mengurangi beban operasional tim mereka. Hal ini menunjukkan bahwa adopsi strategi pertahanan berbasis AI tidak sekadar meningkatkan efektivitas teknis, melainkan juga memberikan dampak langsung terhadap efisiensi kerja sehari-hari, memungkinkan tim fokus pada prioritas strategis alih-alih terjebak dalam tugas reaktif yang berulang.
Lebih dari separuh organisasi di Indonesia sudah mengadopsi keamanan berbasis AI secara luas, terutama pada data dan privasi, sementara adopsi terendah ada di Identity and Access Management. Namun, 40% belum menerapkan agen AI secara ekstensif karena khawatir soal kebocoran data, sistem disusupi, dan pihak ketiga. Meski begitu, lebih dari 80% organisasi tetap percaya diri mampu mendeteksi dan merespons agen AI yang disalahgunakan.