Coffee Break
Coffee Talk: Episode 1
Akhirnya Coffee Talk buatan Toge Productions masuk juga ke perangkat mobile dan tersedia gratis… untuk hari ke-1 aja, sih. Kalau Gadgetarian mau memainkan sampai tamat ya harus membayar. Namun, baru memainkan hari ke-1 saja kami sudah merasakan kedekatan emosional dengan karakter-karakter di dalamnya. Emang ini game tentang apa, sih?
Gadgetarian akan menjadi barista di sebuah kafe yang buka hingga larut malam, di Seattle. Nantinya akan ada pelanggan yang datang dari beragam ras, mulai dari manusia, elf, manusia serigala, pokoknya banyak deh. Setiap pelanggan yang datang memiliki kisah hidup hingga masalah yang rasanya campur aduk, tetapi relate dengan kita.
Contohnya, ada pelanggan yang seorang penulis dan tengah mengalami kebuntuan ide saat dalam proyek menulis novel sementara dia sendiri masih sibuk bekerja di media ternama. Ada pula pekerja lepas dengan penghasilan tidak tetap. Bahkan, ada kisah cinta tak direstui antara elf dan succubus yang relate dengan kisah klasik percintaan tak direstui orang tua hanya karena berbeda keyakinan atau suku.
Di game naratif ini Gadgetarian cukup dengarkan saja curhatan para pelanggan. Dan setiap dialog akan terasa semakin emosional tak hanya dari akar masalahnya saja melainkan juga campur tangan musik lo-fi bernuansa jazzy sebagai penguat nuansa kalem game ini sehingga kami merasa rileks saat menikmati ceritanya.
Dan tentu saja, setiap pelanggan yang datang akan memesan minuman. Di sinilah Gadgetarian berperan sebagai barista. Saat meracik minuman untuk pelanggan sesungguhnya tidak sulit karena game sudah menuliskan resep untuk setiap minuman dengan bahan-bahan, seperti kopi, rempah, cokelat, susu, dan lain-lain.
Kesulitan justru kami alami sewaktu ada pelanggan yang memesan latte art. Sumpah, sulit membuat bentuk menarik. Akhirnya, kami bikin seadanya saja… dan jelas dikomentari, dong. Inilah salah satu hal menarik di game ini.
Ketika kami membuatkan minuman sesuai pesanan, pelanggan akan memuji. Namun, kami juga dengan sengaja mencoba membuatkan pesanan yang salah. Contoh, ada pelanggan yang lebih senang cokelat tapi kami buatkan capuccino, ada pula yang sebaliknya. Hasilnya, ada yang minta minumannya diganti, ada pula yang terima-terima aja dengan ngasih komentar yang lucu, sih.
Ada pelanggan yang minta dibuatkan minuman cokelat tapi malah kami buatkan teh hijau. Alhasil, pelanggan pun berkomentar yang kira-kira seperti ini, “di tempat kami minuman cokelat ya berwarna cokelat, bukan hijau”. Intinya, respon pelanggan berbeda-beda dan ini menambah kedalaman serta dinamika dalam percakapan. Dan ini kami lakukan ketika kami mengulang game sehingga respon tiap karakter antara bermain pertama kali dan ketika mengulang lagi bisa berubah tergantung pada minuman yang kami sajikan.
Elemen grafisnya pun turut membantu menguarkan atmosfer keintiman dalam obrolan. Meski berlokasi di dalam kafe, grafis pixel art-nya cukup hidup dengan siluet orang-orang lalu-lalang di luar kafe. Desain para karakternya pun loveable dengan bentuk wajah yang dengan jelas menunjukkan mereka berasal dari ras fantasi apa saja.
Game juga menyediakan komik pendek di menu untuk tiap-tiap karakter dengan problematika hidup yang berbeda-beda tetapi sangat relate dengan yang banyak orang alami hingga saat ini. Yaahhh… meskipun ulasan singkat yang kami bikin ini hanya dari pengalaman bermain di hari ke-1 saja karena harus beli untuk menikmati keseluruhan ceritanya (anggap saja ini impresi awal), yang jelas Coffee Talk sangat layak untuk dimainkan. Jadi, kalau Gadgetarian mau tahu keseluruhan ceritanya, langsung beli aja.
GRATIS
(Apple App Store, Google Play)


