News
Barang Menumpuk Pembelian Menurun, Pasar Laptop Lesu
Dalam beberapa bulan terakhir, banyak produsen laptop menghadirkan produk barunya ke Indonesia hampir semua merek seperti ASUS, Lenovo bahkan merek Nasional seperti Axioo. Banyknya produk baru yang masuk ke Indonesia tidak serta merta menunjukkan tingginya peminat, karena di lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Dalam beberapa bulan terakhir terutama di Q2 2026, pasar laptop di Indonesia menunjukkan pelemahan, bahkan banyak pedagang laptop yang mengeluhkan sepinya pasar dan sulit menjual laptop.
Ada beberapa hal yang membuat pasar laptop di Indonesia menjadi sepi, salah satunya adalah karena distributor dan konsumen melakukan frontloading (pembelian dipercepat) sebelum kenaikan harga komponen (chip memori, panel, baterai). Pada Q1 2026 para brand besar seperti ASUS sudah memberikan peringatan bahwa akan ada peningkatan harga jual laptop pada Q2 2026. Hal inilah yang membuat para distributor dan juga bahkan konsumen yang membeli perangkat komputer lebih cepat. Hal ini membuat permintaan di paruh kedua tahun 2026 melemah karena stok sudah menumpuk di awal tahun.
Kondisi ini membuat pertumbuhan penjualan laptop di Indonesia nampak suram di 2026. Data dari International Data Corporation (IDC) menunjukkan bahwa penjualan laptop di Indonesia pada tahun 2026 mengalami dinamika yang cukup tajam karena pada kuartal pertama mencatat pertumbuhan 9,4% dengan pengapalan mencapai 982.000 unit, namun sepanjang tahun diproyeksikan turun sekitar 22,9% akibat permintaan yang melemah setelah lonjakan awal. ASUS memimpin pasar dengan pangsa 21,9%, disusul Lenovo 21,4%, HP 17,3%, Acer 13,7%, dan Axioo 7%.
Para analis mengungkapkan bahwa masih langkanya chip memori serta perangkat lainnya untukm kebutuhan AI masih menjadi faktor utama yang membuat penjualan laptop dunia masih akan lesu di 2027 mendatang. Hal ini ditambah dengan rencana hampir semua produsen untuk kembali mengerek harga jual produk mereka di 2027 yang bakal berpengaruh pada daya beli konsumen termasuk Indonesia. Bagi produsen komputer besar, memborong chip memori dalam jumlah besar dapat mengamankan posisinya, namun tidak bagi produsen yang berskala kecil.