Connect with us

Coffee Break

Dari Galaxy Z Fold Hingga iPhone Duo

Published

on

Beberapa hari terakhir para pengguna smartphone di dunia dibuat tersenyum dengan pengumuman hadirnya iPhone Duo, smartphone lipat pertama dari Apple.  Setelah beberapa tahun dunia digempur oleh bermacam smartphone lipat yang dipelopori oleh Samsung, akhirnya Apple menyerah dan mengikuti tren dengan hadirnya iPhone Duo.  Pengumuman yang dilakukan bersamaan dengan hadirnya iPhone 18 Series ini sempat membuat banyak fans iPhone bingung, harus membeli iPhone 18 atau menunggu iPhone Duo.

Hadirnya iPhone Duo yang tak lama lagi juga akan hadir ke Indonesia ini tak lepas dari sudah sedemikian canggihnya teknologi layar dan engsel smartphone lipat, sehingga Apple sudah tak ragu lagi menghadirkan iPhone lipatnya.  Hal ini berbeda dengan ketika Samsung pertama kali menghadirkan Galazy Fold untuk pertama kalinya pada September 2019 lalu karena kehadirannya dibarengi dengan banyak pertanyaan mengenai kekuatan layar lipatnya.

Meskipun Royole FlexPai mencuri perhatian sebagai perangkat komersial pertama, Samsung adalah pelopor sejati yang membawa teknologi layar lipat ke panggung arus utama melalui peluncuran Galaxy Fold. Kehadirannya merupakan gebrakan monumental, walaupun debut tersebut diwarnai berbagai kendala teknis. Generasi pertama ini memperlihatkan betapa rapuhnya layar fleksibel saat dihadapkan pada kerasnya skenario penggunaan harian di dunia nyata.

Kendala awal tersebut justru menjadi katalis bagi akselerasi teknologi layar yang luar biasa cepat. Pabrikan segera melakukan iterasi dengan menambahkan struktur peredam kejut berlapis di bawah panel OLED untuk menyerap benturan mekanis. Lapisan pelindung di atas UTG juga direkatkan secara lebih presisi, membuat layar ponsel lipat masa kini semakin tangguh menghadapi tekanan ujung jari pengguna sekaligus lebih tahan terhadap keausan operasional.

Di balik ketahanan layar tersebut, terdapat satu komponen mekanis yang menjadi jantung dari sebuah ponsel lipat, yaitu engsel. Pada rancangan generasi awal, engsel masih menyisakan celah berbentuk huruf ‘U’ saat bodi ponsel ditutup. Celah ini bukan sekadar masalah estetika, tetapi menjadi jalan masuk bagi debu dan partikel kecil yang berpotensi merusak layar dari dalam, sekaligus menciptakan bekas lipatan (crease) yang sangat dalam di tengah layar.

Inovasi game changer akhirnya lahir melalui terobosan “engsel tetesan air” (waterdrop hinge). Mekanisme mekanis cerdas yang dipelopori pabrikan Tiongkok ini bekerja dengan cara yang sangat berbeda. Alih-alih menekuk layar secara tajam layaknya melipat selembar kertas, engsel ini memberikan ruang lengkung berbentuk tetesan air di bagian dalamnya, sehingga panel melengkung dengan radius yang jauh lebih aman saat ditutup.

Dampak dari engsel tetesan air ini sangatlah masif bagi standar industri ponsel lipat. Inovasi ini memungkinkan kedua sisi perangkat untuk menutup rapat secara sempurna tanpa celah sedikit pun (gapless), sekaligus menyamarkan bekas lipatan secara dramatis hingga nyaris tak terlihat dan tak terasa oleh jari. Desain engsel yang semakin rapat ini juga membuka jalan bagi penerapan segel kedap air, menghadirkan sertifikasi ketahanan air yang memberikan rasa tenang bagi penggunanya.

Continue Reading