News
Ancaman Siber Makin Tinggi dengan AI
Penggunaan layanan digital di Indonesia hingga kini sudah semakin meluas di semua segmen dan strata ekonomi. Banyaknya layanan yang dilakukan secara digital menjadi penyebab tingginya pengguna layanan digital di Indonesia. Jika Gadgetarian akan berobat maka kita harus mendaftar ke layanan kesehatan secara daring. Mendaftarkan anak ke sekolah baik negeri maupun swasta kini juga dilakukan secara digital melalui smartphone maupun komputer.
Penggunaan layanan digital ini memang di satu sisi memang praktis dan murah, karena kita tak perlu datang ke lokasi untuk mendaftarkan sekolah atau ke fasilitas kesehata. Belanja kebutuhan sehari-hari pun kini jauh lebih mudah melalui smartphone dan barang akan datang diantar. Belum lagi layanan keuangan yang kini kita bisa melakukan transfer dan pembayaran di rumah saja tak perlu ke ATM apalagi ke teller.
Tingginya ketergantungan kita terhadap layanan digital di satu sisi juga membuka ruang bagi kejahatan digital baik yang menyerang perseorangan maupun institusi. Banyaknya Gadgetarian yang data pribadinya digunakan orang lain hingga penipuan menjadi bukti bahwa kejahatan digital kini semakin banyak terjadi tak pandang status ekonomi. Kaya maupun miskin, terpelajar ataupun tidak bisa menjadi sasaran kejahatan siber.
Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat lebih dari 5,16 miliar anomali trafik di Indonesia sepanjang Januari hingga November 2025, setara hampir 182 percobaan serangan setiap detik. Data dari BSSN ini merupakan cerminan kondisi pertempuran digital yang sedang berlangsung setiap hari. Indonesia kini menempati peringkat ke-12 di kawasan Asia Pasifik dalam hal tingkat aktivitas siber, dengan sektor keuangan, energi, telekomunikasi, dan pemerintahan menjadi target utama yang bersifat lintas industri.
Kenyataan ini membuat layanan keamanan siber menjadi sebuah keharusan bagi sebuah perusahaan di semua sektor karena kini hampir semua perusahaan sudah memanfaatkan teknologi informasi dalam menjalankan bisnisnya. Hal itulah yang membuat banyaknya penyedia layanan keamanan siber beroperasi di Indonesia. Dari berbagai sumber menyebutkan bahwa setidaknya Tercatat ada 73 perusahaan penyedia layanan keamanan siber (IT security) yang beroperasi di berbagai sektor, terutama di Jakarta dan kota besar lainnya.
Slamet Aji Pamungkas, Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN mengatakan, “Ancaman siber saat ini bukan lagi sekadar risiko teknologi, tetapi telah menjadi tantangan strategis yang dapat memengaruhi keberlangsungan operasional berbagai sektor. Tingginya aktivitas serangan di Indonesia menjadi pengingat bahwa keamanan siber perlu menjadi perhatian di tingkat pimpinan organisasi. Di tengah percepatan transformasi digital dan pemanfaatan kecerdasan buatan di Indonesia, setiap institusi perlu memperkuat ketahanan siber melalui kesiapan yang matang, kolaborasi lintas sektor, serta investasi berkelanjutan pada teknologi, proses, dan sumber daya manusia.”
Banyaknya perusahaan penyedia layanan keamanan siber memberikan keleluasaan bagi masyarakat terutama perusahaan dalam melindungi dirinya dari kejahatan siber. Salah satunya adalah ESET Cybersecurity yang menyediakan layanan keamanan siber untuk individu, UKM hingga perusahaan besar. ESET mengklaim dapat menghilangkan risiko terinfeksi malware oleh file berbahaya hingga 99,9% serta meminimalkan risiko pelanggaran data atau serangan siber.
Data BSSN sendiri menunjukkan bahwa 93,78% dari seluruh anomali trafik nasional pada 2025 berbasis malware. Pada saat yang sama, kecerdasan buatan mulai dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk meningkatkan efektivitas rekayasa sosial dan phishing dalam skala yang jauh lebih besar, sehingga mempercepat proses pencurian akses dan penyalahgunaan identitas digital.
Di dalam ESET Threat Report H2 2025, yang merangkum data periode Juni hingga November 2025, ESET mencatat kemunculan PromptLock, ransomware berbasis AI pertama yang diketahui mampu membuat skrip berbahaya secara dinamis. Hal ini menandai babak baru dunia kejahatan siber, di mana AI tidak hanya dipakai untuk menipu korban, tetapi juga untuk mengotomatisasi dan mempercepat serangan. Waspadalah, waspadalah.