Coffee Break
Menggapai Merdeka Sinyal di Pulau Sumba

Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan teman sekaligus mentor saya yang kini bermukim di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Mas Eko, begitu ia biasa dipanggil bercerita panjang lebar tentang tempat yang ditinggali bersama istrinya itu. Keindahan alamnya yang jauh dari ingar bingar seperti kota Jakarta membuatnya betah menghabiskan masa tua bersama istrinya. Tak heran jika wilayah ini banyak dikunjungi wisatawan mancanegara terutama dari Eropa.
Pulau Sumba dikenal sebagai salah satu daerah dengan potensi pariwisata dan pertanian yang besar. Mas Eko bahkan menyebut Sumba ibarat perpustakaan besar antropologi dan etno – yg pintunya baru terkuak sedikit. Namun, keterbatasan infrastruktur telekomunikasi masih menjadi tantangan utama dalam mendukung aktivitas ekonomi, pendidikan, dan layanan publik di wilayah ini. Jangankan telekomunikasi, listrik saja masih sangat tidak stabil karena sering terputus. Itulah mengapa menjadi sebuah tantangan bagi operator seluler dalam membangun infrastrukturnya disana.
Kondisi geografis Sumba yang berupa perbukitan dan keterbatasan infrastruktur dasar menjadi faktor penghambat, sehingga memperoleh layanan seluler yang stabil merupakan sebuah kemewahan disana. Mas Eko bercerita betapa sinyal seluler di rumahnya seperti “anyi-anyi” atau ogah-ogahan dalam bahasa Jawa Timuran. Memang ada tiga operator seluler yang kadang tertangkap sinyalnya namun sinyal Telkomsel yang paling stabil. Sehingga Mas Eko dan warga di sana mengandalkan Telkomsel sebagai sarana berkomunikasi maupun akses internet.
Telkomsel Tetap yang Terbaik di Indonesia
Meski demikian mas Eko yang tinggal di desa Kelimbu, Ngaa Banga, kecamatan Kota, kabupaten Sumba Barat Daya ini merasa betah dengan segala keterbatasannya dan hidup menyesuaikan dengan kondisi lokal. Walau bukan daerah terluar karena masih ada Rote Ndao dan Rote Baa di wilayah paling selatan Indonesia, namun butuh cukup banyak berganti alat transportasi dari rumahnya untuk dapat ke Jakarta.
Apa yang dikisahkan mas Eko tentang telekomunikasi seluler di wilayah Sumba Barat Daya merupakan sedikit dari masih minimnya layanan seluler di wilayah tersebut dan juga wilayah terpencil lainnya di Indonesia. Sumba merupakan salah satu wilayah yang menjadi fokus pemerintah dalam membangun infrastruktur seluler melalui program Bakti Kominfo juga membangun Base Transceiver Station (BTS) di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), termasuk di beberapa desa terpencil di Sumba.
Tidak bisa dipungkiri infrastruktur Telkomsel di wilayah ini memang yang paling baik, bahkan sejak 2018 lalu ketika saya berkunjung ke Flores. Dalam acara Telkomsel Solution Day yang diselenggarakan di Jakarta beberapa waktu lalu, Direktur Utama PT Telkom Indonesia Tbk, Dian Siswarini mengungkapkan bahwa tidak ada yang bisa menandingi infrastruktur telekomunikasi yang dimiliki oleh Telkom Group.
Total Capex Telkom Group, yang pada semester I 2025 telah merealisasikan Rp9,5 trilun untuk memperluas infrastruktur digital dan data center salah satunya digunakan untuk membangun menara telekomunikasi, dan satelit guna mendukung layanan internet berkecepatan tinggi di seluruh Indonesia. Peningkatan infrastruktur digital yang dilakukan oleh TelkomGroup secara langsung akan memperluas cakupan dan kualitas layanan Telkomsel termasuk di Sumba dan daerah 3T lainnya.
Hadirnya layanan seluler Telkomsel di Sumba diharapkan dapat menjadikan warga Sumba bisa merasakan merdeka sinyal dan dapat mengakses layanan digital walau memang masih belum sepenuhnya baik dan masih harus terus dikembangkan. Karena dengan hadirnya jaringan seluler yang lebih baik diharapkan dapat mendorong peningkatan kualitas hidup masyarakat Sumba. Akses komunikasi yang lancar tidak hanya memudahkan koneksi antarwilayah, tetapi juga membuka peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi digital, pengembangan UMKM lokal, serta memperkuat sektor pariwisata Sumba yang kini semakin mendunia.
