Coffee Break
Setengah Video Game, Setengah Novel Grafis
Celoteh Game kali ini berbeda. Lebih kelam, lebih miris, traumatis. Kenapa? Karena Wednesdays Mobile mengangkat tema yang tabu, tetapi masih sering terjadi, bahkan mungkin ada di sekitar kita tanpa kita sadari: Pelecehan seksual terhadap anak-anak yang dilakukan oleh anggota keluarga atau kerabat yang masih memiliki hubungan darah alias inses.
Pengembang game paham betul bagaimana cara memvisualisasikan game naratif-interaktif ini tanpa perlu menjadi vulgar walaupun di beberapa adegan terdapat percakapan eksplisit dengan satu adegan yang sangat miris. Jadi, Gadgetarian akan memainkan karakter pria dewasa berkepala kubus bernama Tim. Ketika Tim memainkan game masa kecilnya, Orco Park, tentang membangun wahana, sesuatu yang terkubur lama dalam memorinya kembali terbuka. Setiap wahana yang dibangun akan memunculkan kembali memori-memori tentang pelecehan yang dialaminya waktu kecil.
Kami respek pada bagaimana cara game dalam menggambarkan pelecehan yang dialami oleh Tim. Di beberapa adegan, ketika Tim berinteraksi dengan karakter-karakter dalam hidupnya, game memperlihatkan betapa pelecehan inses dilakukan dengan cara yang terkesan tidak memaksa korban. Tim diposisikan seakan-akan ikut menikmati. Nah, di sinilah letak mirisnya.
Pelaku pelecehan seksual memiliki berbagai alasan terkait apa yang sudah mereka lakukan terhadap korban. Namun, satu hal yang sama: mereka melakukannya dengan cara memanfaatkan kepolosan anak-anak. Semacam tindak pemerkosaan terselubung. Pelecehan bisa terjadi karena memainkan game hingga saat berada dalam obrolan ringan. Yang lebih menyakitkan, para korban tidak berani berbicara karena pelakunya anggota keluarga atau kerabat sendiri. Inilah yang terjadi pada Tim.
Tim akan mengunjungi memori-memori lamanya ketika membangun wahana di Orco Park. Setiap memori akan menampilkan visual gambar tangan yang indah yang menunjukkan interaksi antara Tim dan karakter lainnya. Game akan memberikan beberapa opsi respon ketika dialog terjadi, tetapi apapun respon yang dipilih tetap akan bermuara ke narasi utama.
Alur game akan berjalan sesuai dengan wahana apa yang akan dibangun terlebih dahulu. Itulah kenapa saat kami memainkannya, alur game berjalan non-linear. Alih-alih bingung, justru kami merasakan sensasi bolak-balik linimasa yang selalu memberikan kejutan beserta hantaman emosi yang berbeda. Game menyediakan pilihan chapter yang bisa Gadgetarian kunjungi kembali untuk melihat alur waktu secara linear seandainya semua wahana sudah dibuka dan konklusi cerita sudah ditunjukkan. Kami sempat mencoba beberapa opsi respon yang berbeda dari pilihan kami sebelumnya saat berada dalam dialog di setiap chapter dan memang hasilnya tetap berujung ke narasi utama.
Ngomong-ngomong soal visual, game membagi dua visual yang jauh berbeda. Ketika berada di Orco Park, game menampilkan grafis pixel kartun penuh warna disertai iringan musik ceria. Namun, saat memasuki memori demi memori, visual berubah menjadi goresan gambar tangan dalam balutan novel grafis yang menampilkan kontras indah antara karakter dan latar belakang. Dua visual yang sangat berbeda tone, tetapi menjadi satu tempat penampungan memori traumatis.
Wednesdays bisa terasa biasa saja bagi sebagian orang, tetapi mungkin akan memberikan dampak berbeda bagi yang pernah mengalaminya. Ditambah dengan tidak ada pilihan Bahasa Indonesia, mungkin game ini akan susah diikuti bagi yang tidak mengerti Bahasa Inggris.
Walau begitu, Wednesdays Mobile termasuk salah satu game yang kami apresiasi karena berani mengangkat topik yang sangat sensitif dengan cara yang dibuat seaman mungkin sambil tetap memberikan dampak emosional yang kuat. Ini juga menjadi pertama kalinya kami mengulas game dengan sangat hati-hati sambil berharap setiap diksi yang kami gunakan tetap berada di jalur ulasan game ini tanpa menyinggung siapapun dan keluar jalur.
Oh iya, penasaran kenapa karakter utama berkepala kubus? Coba mainkan sampai selesai untuk tahu jawabannya.
GRATIS
(Apple App Store, Google Play)


