Connect with us

News

Teknologi dan Layanan Seluler Bakal Berkontribusi US$1,4 triliun

Published

on

Perhelatan M360 ASEAN 2026 yang akan berlangsung bulan depan menyoroti bahwa fase pertumbuhan digital berikutnya tidak hanya ditentukan oleh aspek konektivitas. Laporan terbaru menekankan bahwa arah perkembangan digital akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana pemerintah, operator, dan penyedia teknologi merespons empat prioritas utama yang saling berkaitan.  Keempat prioritas utama itu adalah perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang semakin pesat.  Namun di lain pihak tingkat kepercayaan digital juga semakin menurun, karena banyaknya penggunaan AI untuk tindak kejahatan siber.

Prioritas lainnya adalah meningkatnya kebutuhan akan infrastruktur digital yang lebih tangguh mengingat penggunaan digital semakin masif digunakan oleh hampir semua lapisan masyarakat.  Meski banyak kekawatiran dari masyarakat dalam menghadapi era digital ini namun pertumbuhan minat minat terhadap kedaulatan digital masih sangat tinggi.

Temuan ini hadir di tengah upaya pemerintah di berbagai belahan Asia Pasifik dalam mengatasi peningkatan penipuan online, melonjaknya permintaan infrastruktur AI, ketidakpastian geopolitik yang semakin intensif, dan ekspektasi yang terus meningkat terhadap kedaulatan digital. Laporan ini mengidentifikasi berbagai tantangan tersebut – beserta peluang yang diciptakannya – sebagai tema utama diskusi dalam M360 ASEAN pada bulan September mendatang.

Laporan ini menekankan semakin pentingnya isu kedaulatan digital di kawasan Asia Pasifik. Pemerintah bersama pelaku industri kini secara aktif mengalokasikan investasi pada infrastruktur AI lokal, layanan cloud yang tepercaya, ekosistem data yang aman, serta penguatan kapabilitas digital. Upaya tersebut diarahkan untuk mendukung prioritas nasional, sekaligus menjaga keterbukaan, mendorong inovasi, dan memperkuat kolaborasi lintas batas.

Seiring layanan digital semakin melekat dalam kehidupan sehari-hari, menjaga kepercayaan terhadap ekosistem digital menjadi semakin krusial. Laporan ini mencatat peningkatan signifikan jumlah konsumen ASEAN yang mengaku pernah menjadi korban penipuan, dari 31% pada 2024 menjadi 45% pada 2025. Fakta ini menegaskan urgensi tinggi untuk menanggulangi praktik penipuan sekaligus memperkuat keamanan daring. Operator merespons dengan meningkatkan investasi di bidang keamanan, sistem pencegahan penipuan, serta memperluas kolaborasi lintas sektor demi melindungi konsumen dan dunia usaha.

Dari laporan GSMA tersebut menyimpulkan bahwa teknologi dan layanan seluler diproyeksikan berkontribusi sebesar US$1,4 triliun bagi perekonomian Asia Pasifik pada tahun 2030, meningkat 40% dari US$1 triliun yang dihasilkan saat ini, menurut laporan terbaru GSMA.