Connect with us

Coffee Break

Dari Perangkat Hiburan Jadi Mesin Kerja Andal

Published

on

Pernahkah Gadgetarian bekerja di kafe atau mencatat kuliah di kelas tanpa perlu menggendong tas ransel super berat berisi laptop dan adaptornya? Pasti pernah lah, buat yang belum pernah jangan berkecil hati ya, mungkin belum waktunya. Tren beralihnya masyarakat urban, pekerja kreatif, hingga mahasiswa dari laptop konvensional ke tablet PC kini bukan lagi sekadar gaya-gayaan, melainkan sebuah kebutuhan mutlak.

Namun, kenyamanan yang kita nikmati saat menggunakan tablet hari ini tidaklah instan. Tablet PC telah melalui perjalanan panjang yang penuh liku, skeptisisme, hingga lompatan teknologi yang radikal sebelum akhirnya menjelma menjadi mesin komputasi yang super andal.

Gadget Konsumtif yang Sempat Diremehkan
Ketika Steve Jobs pertama kali memperkenalkan iPad ke dunia pada tahun 2010, jagat teknologi sempat terbelah. Banyak pengamat yang mencibir perangkat baru ini sebagai sekadar “smartphone yang dibengkakkan” atau mainan mahal bagi orang kaya. Pada awal kemunculannya, fungsi utama Tablet PC memang murni didesain untuk konsumsi media, bukan untuk menciptakan konten.

Sistem operasi yang digunakan pada masa itu masih mengadopsi basis OS smartphone yang diperbesar. Akibatnya, keterbatasan fungsionalitas begitu terasa, seperti keterbatasan multitasking yang membuat pengguna tidak bisa membuka dua aplikasi secara bersamaan (split-screen) layaknya di komputer.

Lalu, belum ada ekosistem keyboard magnetis yang ramping. Mengetik dokumen panjang di atas layar kaca tanpa umpan balik fisik (tactile feedback) menjadi siksaan bagi jari-jari tangan. Performa dapur pacunya pun terbatas. Chipset masa lalu hanya kuat untuk menjalankan gim kasual, berselancar santai di internet, dan membaca e-book.

Walhasil, selama bertahun-tahun, tablet PC hanya berakhir di pojok kamar sebagai alat hiburan anak-anak atau sekadar pemutar video sebelum tidur.

Namun, memasuki pertengahan dekade 2010-an, para produsen mulai menyadari jenuhnya pasar tablet hiburan. Revolusi pun dimulai. Sistem operasi mulai dirombak total, Apple meluncurkan iPadOS yang terpisah dari iOS, sementara Google dan para produsen gawai Android mulai mengoptimalkan antarmuka tablet agar lebih ramah kerja.

Teknologi stylus pen yang dulunya dinilai tidak akurat kini bertransformasi menjadi pena digital dengan latensi super rendah dan fitur palm rejection (layar tidak merespons sentuhan telapak tangan saat menulis). Ditambah dengan munculnya konektivitas USB tipe C yang universal, tablet mulai bisa dicolokkan ke memori eksternal (flashdisk/harddisk), proyektor, hingga monitor eksternal.

Spesifikasi tablet yang hadir di pasaran pun kini memiliki spesifikasi yang sangat beragam mulai dari tablet entry level dengan spesifikasi pas-pasan hingga tablet dengan spesifikasi super.  Hal ini membuat tablet semakin perkasa dan menjadi perangkat yang menyamai laptop namun lebih praktis terutama dengan hadirnya keyboard yang banyak dijual sepaket dengan tablet.  Tak heran jika kini banyak para profesional yang menggunakan tablet untuk bekerja, bukan laptop.  Apakah Gadgetarian juga menggunakan tablet untuk bekerja?