XL Axiata Raup Rp 18 Triliun Selama 2020

Meskipun harus menghadapi tantangan industri yang cukup berat, PT Axiata Tbk (XL Axiata) berhasil melalui periode sembilan bulan pertama tahun 2020 (9M 2020) ini dengan tetap mencatat pertumbuhan kinerja yang positif.  XL Axiata mampu mencatat peningkatan pendapatan layanan (service revenue) sebesar Rp 18,3 triliun atau meningkat 8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (YoY). Sedangkan pendapatan dari layanan data juga terus tumbuh 12% YoY, dan sekaligus meningkatkan kontribusinya terhadap total pendapatan layanan (service revenue) perusahaan menjadi sebesar 92%.

Sepanjang sembilan bulan 2020 ini, XL Axiata juga berhasil meraih EBITDA sebesar Rp 9,9 triliun, meningkat 34% YoY. Laba bersih setelah pajak pada sembilan bulan ini tercatat Rp 2,1 triliun. Secara kuartal, pada periode kuartal ketiga 2020 ini, EBITDA juga berhasil tumbuh 3% lebih tinggi dari kuartal sebelumnya (QoQ), dan laba bersih setelah pajak mencapai sebesar Rp 331 miliar.

Presiden Direktur & CEO XL Axiata, Dian Siswarini

Dalam rilis yang diterima redaksi TPLUS, secara umum Presiden Direktur & CEO XL Axiata, Dian Siswarini mengungkapkan bahwa pandemi Covid-19 berdampak pada daya beli masyarakat, dan tidak menurunkan intensitas kompetisi di industri. Semua operator justru berlomba menawarkan berbagai produk, yang selain disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan daya beli masyarakat. Banyaknya produk-produk dengan harga yang lebih terjangkau atau bonus yang lebih banyak. Karena itu XL Axiata berupaya keras untuk bisa mempertahankan kinerja dengan mendorong penjualan dan di saat yang sama melakukan efisiensi di hampir semua lini bisnis.

Salah satu yang membuat kinerja XL Axiata terus membaik adalah karena beban usaha di sembilan bulan pada 2020 ini menurun 14% YoY. Salah satunya adalah karena beban biaya infrastruktur yang lebih rendah (28% YoY) sebagai dampak dari adopsi IFRS 16. Faktor lainnya adalah biaya interkoneksi dan biaya langsung lainnya juga turun 24% YoY dampak dari penurunan trafik penggunaan layanan voice serta biaya pemasaran yang turun 6%YoY setelah lebih banyak menggunakan saluran digital.

Share